BUAT WEBSITE SENDIRI!BELAJAR MEMBUAT WEBSITE SENDIRI! KLIK DI SINI

Beberapa Statment dari Mentri Agama.

mentri-agama-fahrulrozi

Beberapa Statment dari Mentri Agama.

Jejak-ide.com – Beberapa waktu lalu Presiden kita telah menunjuk dan melantik mentri-mentri baru yang akan bertugas di Kabinet Mentri Indonesia Maju, banyak perubahan nama-nama jajaran mentri dari mulai mentri agama sampai mentri pertahanan yang cukup mengagetkan kita semua tentunya.

Salah satu mentri baru yang dilantik Presiden ialah mentri Agama, yang baru-baru ini membuat statment yang menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat khusunya kontra di sebagian ulama-ulama di indonesia.

Berikut beberapa Statment ngaco menurut kelompok kontra yang sebaiknya diklarifikasi dan mengurunkan niat untuk merealisasi statment yag telah dibuatnya.

1. Wanita muslimah yang berhijab syar’i “dilarang menggunakan niqab (cadar)”.

2. Lelaki muslim dilarang menggunakan celana “ngatung” atau cingkrang, dengan beranggapan penampilan memicu “radikalism”.

3. Berkata “bahwa beliau menjadi mentri agama bukan sebagai wakil dari agama islam, melainkan seluruh agama”, ini menurut para ulama dan masyarakat muslim adalah sebagai statment yang sangat tidak pantas karena seolah beliau tidak bangga menjadi perwakilan dari agamanya sediri.

Respon dari Beberapa Kalangan

Mengutip dari CNN Indonesia berikut komentar dari sekjen MUI :

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta tak perlu ada pelarangan cadar di lingkungan instansi pemerintah. Pasalnya, masalah cadar termasuk perbedaan pandangan dalam Islam yang masih bisa ditoleransi. Penyelesaiannya pun lewat jalur diskusi dan toleransi.

“Tak usah ada larangan. Kalau nanti dilarang masyarakat akan menuntut. Faktanya [cadar] begini yang dibolehkan oleh agama [malah] dilarang. Pakai cadar kan dibolehkan,” Ia menjelaskan bahwa masalah cadar, dan juga celana cingkrang, termasuk kategori furu’iyah. Artinya, perbedaan dalam agama yang sifatnya tak prinsipil dan masih bisa ditoleransi. Pasalnya, beberapa mazhab ada yang menyatakannya sunah, dan ada yang menyatakannya wajib.

MUI, kata Anwar, hanya tak menoleransi perbedaan pendapat yang sifatnya prinsipil atau ushuliyah. Contohnya, prinsip ketuhanan. “Perbedaan tentang masalah cadar sikap yang harus kita kedepankan adalah sikap toleransi,” kata dia.

“Nah, perbedaan [soal cadar] itu bukan berada di ranah ushuliyah tapi di furu’iyah. Maka yang [sebaiknya] dianjurkan oleh beliau (Menteri Agama) adalah orang yang memakai cadar untuk supaya bisa menghormati orang yang tidak memakai cadar. Begitu sebaliknya,” Anwar menambahkan.

Ia juga membantah dugaan soal hubungan antara cadar dengan terorisme dan radikalisme. Menurutnya, aksi kekerasan di berbagai belahan dunia dilakukan oleh orang dengan berbagai latar belakang dan jenis pakaiannya.

“Orang yang pakai cadar bisa lakukan tindak kriminal dan orang yang enggak pakai cadar juga bisa lakukan tindak kriminal. Oleh karena itu hadapi saja kasus per kasus,” ujar dia. Anwar juga mempertanyakan prinsip keadilan jika cadar memang dilarang. Sebab, di saat yang sama pakaian jenis lain yang jelas melanggar prinsip keagamaan, misalnya, rok mini, tak dilarang di instansi pemerintah.

“Kalau orang pake rok mini? Kalau orang ke Kemenag tidak pakai tutup kepala dilarang tidak? Kalau [pakai rok mini] tidak dilarang fairness-nya dimana? Kok orang pake pakaian sesuai ajaran Islam tidak boleh, tapi orang yang memakai pakaian yang dilarang Islam kok boleh?” cetus dia.Ia pun meminta Menag merangkul sejumlah pihak yang berkepentingan untuk mendiskusikan rencana tersebut.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *